![]() |
| Moc. Alviano Pramudita Sofyan, Syaiful Imam, dan Muhammad Bayu Anugerah Pratama |
Pada hari Kamis, 7 November 2024 - Tim perwakilan SMPN 2
Besuk yang terdiri dari Moch. Alviano Pramudita Sufyan, Syaiful Imam, dan
Muhammad Bayu Anugerah Pratama berhasil menunjukkan kreativitasnya dalam ajang Parade
of Art, Science, and Religious (PASCAL) di SMA Tunas Luhur. Dengan semangat
dan tekad kuat, mereka mengikuti lomba desain batik digital yang berlangsung
meriah dan penuh tantangan.
Motivasi dan Persiapan
Intensif
Ketika ditanya mengenai
motivasi mereka, ketiga siswa ini mengungkapkan bahwa mereka tertarik untuk
menambah pengalaman di bidang seni batik digital. “Awalnya memang agak sulit
karena kami belum terbiasa menggunakan aplikasi ibisPaint untuk mendesain, tapi
setelah latihan, kami mulai bisa dan merasa nyaman,” ujar Syaiful Imam, sang
desainer utama.
![]() |
| Syaiful sedang membuat desain batik |
Selama persiapan, tim
menghabiskan waktu tiga hari untuk mempelajari aplikasi, membuat desain, dan
menyempurnakan pewarnaan. Inspirasi mereka datang dari kekayaan budaya
Kabupaten Probolinggo, dengan motif utama berupa Candi Jabung, Tari Glipang,
simbol padi dan jagung, serta merpati. Masing-masing elemen dalam desain ini
dipilih secara cermat untuk mencerminkan nilai-nilai budaya lokal, seperti
keberanian, cinta tanah air, kemandirian, dan dedikasi pada pendidikan.
Makna Filosofis Desain
Batik
Desain yang dibuat tim
SMPN 2 Besuk memiliki makna mendalam. “Candi Jabung dan Tari Glipang
melambangkan pentingnya menghargai sejarah dan budaya setempat,” jelas Bayu.
Filosofi ini diiringi dengan simbol padi dan jagung yang mencerminkan kerja
keras dan hubungan harmonis dengan alam. Merpati dalam desain tersebut menjadi
simbol kesetiaan dan komitmen untuk membentuk generasi yang berkualitas dan
berkarakter kuat.
Tantangan dan Pengalaman
Berharga

Vino, Syaiful, dan Bayu sedang mengikuti mini outbond
Meskipun menghadapi
tantangan dalam menyalin desain ke template baju, semangat mereka tetap tinggi.
“Tantangan terbesar kami adalah menyesuaikan desain dengan template, tetapi
kami tetap bangga dengan hasil akhirnya,” tambah Vino yang bertugas merapikan desain.
Selama lomba, mereka juga merasakan berbagai pengalaman seru seperti rumble
PASCAL berupa game, mendesain batik selama dua jam, serta mini outbound
yang menantang.
Pelajaran Berharga dan
Harapan ke Depan
Meskipun belum meraih
kemenangan, ketiga siswa ini merasa bangga bisa mewakili sekolah dan
menciptakan karya desain mereka sendiri. “Ini adalah pengalaman yang sangat
berharga, apalagi bisa bersaing dengan sekolah-sekolah ternama,” kata Bayu.
Mereka juga menekankan pentingnya menerima kekalahan dengan lapang dada,
menambah jaringan pertemanan baru, dan belajar dari pengalaman.
Di masa depan, mereka
masih bersemangat untuk berpartisipasi dalam lomba desain batik lainnya. “Kami
ingin terus berlatih dan menemukan inovasi baru agar kemampuan kami semakin
berkembang,” ujar Syaiful. Mereka berharap agar remaja lainnya bisa tertarik dan
termotivasi untuk belajar batik digital, sehingga seni tradisional ini dapat
terus dilestarikan dan diperkenalkan dalam format yang lebih modern.
Dengan partisipasi
aktif seperti ini, SMPN 2 Besuk membuktikan komitmennya dalam mendukung potensi
dan kreativitas siswa-siswinya. Dukungan penuh dari sekolah dan guru-guru
membuat para siswa merasa lebih termotivasi untuk terus belajar dan
berprestasi.








0 comments:
Posting Komentar